Makalah Sosial Dasar
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
segala rahmat dan hidayah-Nya saya mendapat kesempatan untuk membuat tugas
makalah Sosial Dasar yang berjudul Manusia Sebagai Makhluk Sosial.
Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada dosen dan
teman-teman saya yang telah banyak membantu dalam pengerjaan makalah ini hingga
selesai. Makalah yang saya buat ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu
saya sangat membutuhkan saran yang membangun agar makalah yang saya buat ini
dapat lebih baik lagi untuk dibaca oleh pembaca. Dan semoga makalah yang saya
buat dapat menambah wawasan mahasiswa, dosen, dan pembaca lainnya.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia
sebaai makhluk sosial, bermula dari kemampuan yang terbatas timbullah sifat
membutuhkan bantuan orang lain kemudian dengan sendirinya hidup ini memang
harus bergaul dengan masyarakat agar kesatuan sebagai individu
ataupun sebagai warga negara bisa saling meringankan beban satu sama lainnya. Agar
dinamika didalam kehidupan ini tidak terlalu berat untuk dijalani. Itulah
mengapa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan makhluk sosial?
2. Tujuan
manusia bersosialisasi dengan manusia lain?
3. Adakah
dasar-dasar struktur sosial?
4. Apa
saja faktor yang mempengaruhi manusia bersosialisasi?
C. Tujuan
1. Menjelaskan
arti makhluk sosial
3. Menjelaskan
dasar-dasar Struktur Sosial
4. Menjelaskan
faktor yang berpengaruh dalam sosialisasi manusia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Makhluk Sosial
Manusia
selain sebagai makhluk individu, manusia juga disebut sebagai makhluk sosial.
Artinya manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk
berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain, selanjutnya interaksi
ini berbentuk kelompok. Kemampuan dan kebiasaan manusia berkelompok ini disebut
juga dengan zoon politicon.
Istilah
manusia sebagi zoon politicon pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles yang
artinya manusia sebagai binatang politik. Manusia sebagai insan politik atau
dalam istilah yang lebih populer manusia sebagi zoon politicon, mengandung
makna bahwa manusia memiliki kemampuan untuk hidup berkelompok dengan manusia
yang lain dalam suatu organisasi yang teratur, sistematis dan memiliki tujuan
yang jelas, seperti negara.
Kata 'Makhluk Sosial' mungkin sudahlah
tidak asing di telinga kita. Pada saat proses kelahiran kita pun, tak lepas
dari kalimat ini. Ialah dimana saat kita dilahirkan oleh ibu kita, dan pada
saat itulah kita membutuhkan sosok seorang ibu untuk memperkenalkan dunia baru
tersebut kepada kita.
Setelah lahirnya sang anak ke dunia, orang tua lah (ibu)
yang senantiasa berperan dalam proses pengenalan dunia barunya. Oleh karena itu, manusia saling
membutuhkan sesamanya.Secara garis besar diatas adalah merupakan suatu contoh
perwujudan kita sebagai makhluk sosial.
Dan pengertian makhluk sosial adalah sebagai berikut, dalam kehidupan di dunia, setiap makhluk hidup memerlukan interaksi dan komunikasi satu sama lain, khususnya bagi umat manusia. Interaksi dan komunikasi ini sangat diperlukan karena manusia ditakdirkan menjadi makhluk sosial yang tak pernah lepas dari bantuan orang lain. Oleh karena manusia hidup sebagai mahkluk sosial itulah, disadari maupun tidak, manusia cenderung hidup berkelompok dengan tujuan yang sama, yakni untuk meningkatkan kesejahteraan dan kehidupan mereka masing-masing.
Dalam
tujuannya meningkatkan taraf kesejahteraan dan kehidupan manusia, mereka
cenderung hidup berkelompok yakni misalnya untuk mewujudkan kebutuhan
sosialnya, terciptanya keamanan, ketertiban, keadilan, kenyamanan, kerjasama
dan lain sebagainya. Dalam kehidupan berkelompok pula, manusia relatif tidak
berorganisasi namun semua itu terjadi secara spontan untuk hidup berkelompok
Tidak
mungkinlah manusia mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam contoh
lain, saat kita telah tiada di dunia (meninggal), kitapun tentu saja
membutuhkan bantuan orang lain untuk menguburkan jenazah kita.
Dari berbagai contoh diatas yang telah dipaparkan, sehingga kita disebutlah manusia sebagai makhluk sosial.
Dari berbagai contoh diatas yang telah dipaparkan, sehingga kita disebutlah manusia sebagai makhluk sosial.
Manusia Sebagai Makhluk Sosial memiliki naluri untuk saling tolong menolong, setia
kawan, rasa toleransi, simpati dan juga empati terhadap sesamanya. Keadaan
inilah yang dapat menjadikan suatu masyarakat yang baik, harmonis dan rukun,
hingga saat berinteraksi itulah mengharuskan terciptanya norma dan etika yang
harus dijaga selama proses berinteraksi dengan sesamanya. Bila
dalam proses tersebut kita melanggar norma-norma dan etika kesopan santunan,
maka akan timbulah penyimpangan-penyimpangan sosial.
B. Interaksi Sosial dan Sosialisasi
1. Interaksi
Sosial
Kata interaksi berasal dari kata inter dan action. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antara individu, kelompok sosial, dan masyarakat.
Interaksi adalah proses di mana orang-orang berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dala pikiran danb tindakana. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.
Interaksi sosial antar individu terjadi manakala dua orang bertemu, interaksi dimulai: pada saat itu mereka saling menegeur, berjabat tangan, saling berbicara, atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk dari interaksi sosial.
Interaksi sosial terjadi dengan didasari oleh faktor-faktor sebagai berikut
Imitasi adalah suatu proses peniruan atau meniru.
Kata interaksi berasal dari kata inter dan action. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antara individu, kelompok sosial, dan masyarakat.
Interaksi adalah proses di mana orang-orang berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dala pikiran danb tindakana. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.
Interaksi sosial antar individu terjadi manakala dua orang bertemu, interaksi dimulai: pada saat itu mereka saling menegeur, berjabat tangan, saling berbicara, atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk dari interaksi sosial.
Interaksi sosial terjadi dengan didasari oleh faktor-faktor sebagai berikut
Imitasi adalah suatu proses peniruan atau meniru.
Sugesti adalah suatu poroses di mana seorang individu menerima suatu
cara penglihatan atau peduman-pedoman tingkah laku orang lain tanpa dkritik
terlebih dahulu. Yang dimaksud sugesti di sini adalah pengaruh pysic, baik yang
datang dari dirinya sendiri maupuhn dari orang lain, yang pada umumnya diterima
tanpa adanya kritik. Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya, dengan
interaksi sosial adalaha hampir sama. Bedanya ialah bahwa imitasi orang yang
satu mengikuti salah satu dirinya, sedangkan pada sugesti seeorang memberikan
pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima oleh orang lain di luarnya.
Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identi
(sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun batiniah.
Simpati
adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati
timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilain perasaan
seperti juga pada proses identifikasi.
2. Sosialisasi
Sosialisasi menunjuk pada semua faktor dan proses yang
membuat setiap manusia menjadi selaras dalam hidupnya di tengah-tengah
masyarakat. Seorang anak dikatakan telah melakukan sosialisasi dengan baik,
apabila ia bukan hanya menampilkan kebutuhannya sendiri saja, tetapi juga
memerhatikan kepentingan dan tuntutan orang lain.
Pengertian sosialisasi secara umum dapat diartikan
sebagai proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta
nilai-nilai sosial sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai
dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya.
Proses pembelajaran berlangsung secara bertahap,
perlahan tapi pasti dan berkesinambungan. Pada awalnya, proses itu berlangsung
dalam lingkungan keluarga, kemudian berlanjut pada lingkungan sekitarnya, yaitu
lingkungan tetangga, kampung, kota, hingga lingkungan negara dan dunia. Di
samping itu, individu mengalami proses enkulturasi (pembudayaan), yaitu
individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikapnya dengan adat
istiadat, sistem norma, dan peraturan yang berlaku dalam kebudayaan masyarakatnya.
Manusia lahir ke dunia sebagai bayi yang penuh dengan
segala macam kebutuhan fisik. Kemudian ia menjadi seorang manusia dengan
seperangkat nilai dan sikap, kesukaan dan ketidaksukaan, tujuan serta maksud,
pola reaksi dan konsep yang mendalam, serta konsisten dengan dirinya. Setiap
orang memperoleh semua itu melalui suatu proses belajar yang kita sebut sebagai
sosialisasi, yakni proses belajar yang mengubahnya menjadi seorang pribadi yang
manusiawi. Sosialisasi adalah suatu proses di mana seseorang menghayati
(internalize) norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbullah ‘diri’
yang unik. Definisi sosialisasi ialah proses mempelajari kebiasaan dan tata
kelakuan untuk menjadi suatu bagian dari suatu masyarakat, sebagian adalah
proses mempelajari peran.
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.
Jenis sosialisasi
Keluarga sebagai perantara sosialisasi primer
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.
Sosialisasi primer
Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.
Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.
Jenis sosialisasi
Keluarga sebagai perantara sosialisasi primer
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.
Sosialisasi primer
Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.
Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.
Sosialisasi sekunder
Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan' identitas diri yang lama.
Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan' identitas diri yang lama.
Tipe
sosialisasi
Setiap kelompok masyarakat mempunyai standar dan nilai yang berbeda. contoh, standar 'apakah seseorang itu baik atau tidak' di sekolah dengan di kelompok sepermainan tentu berbeda. Di sekolah, misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau tidak pernah terlambat masuk sekolah. Sementara di kelompok sepermainan, seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling membantu. Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada. Ada dua tipe sosialisasi. Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut.
Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.
Baik sosialisasi formal maupun sosialisasi informal tetap mengarah kepada pertumbuhan pribadi anak agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Dalam lingkungan formal seperti di sekolah, seorang siswa bergaul dengan teman sekolahnya dan berinteraksi dengan guru dan karyawan sekolahnya. Dalam interaksi tersebut, ia mengalami proses sosialisasi. dengan adanya proses soialisasi tersebut, siswa akan disadarkan tentang peranan apa yang harus ia lakukan. Siswa juga diharapkan mempunyai kesadaran dalam dirinya untuk menilai dirinya sendiri. Misalnya, apakah saya ini termasuk anak yang baik dan disukai teman atau tidak? Apakah perliaku saya sudah pantas atau tidak?
Meskipun proses sosialisasi dipisahkan secara formal dan informal, namun hasilnya sangat suluit untuk dipisah-pisahkan karena individu biasanya mendapat sosialisasi formal dan informal sekaligus.
Pola sosialisasi
Sosiologi dapat dibagi menjadi dua pola: sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris. Sosialisasi represif (repressive socialization) menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan anak dan orang tua. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orang tua dan keinginan orang tua, dan peran keluarga sebagai significant other. Sosialisasi partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola di mana anak diberi imbalan ketika berprilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan diletakkan pada interaksi dan komunikasi bersifat lisan yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak. Keluarga menjadi generalized other.
Setiap kelompok masyarakat mempunyai standar dan nilai yang berbeda. contoh, standar 'apakah seseorang itu baik atau tidak' di sekolah dengan di kelompok sepermainan tentu berbeda. Di sekolah, misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau tidak pernah terlambat masuk sekolah. Sementara di kelompok sepermainan, seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling membantu. Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada. Ada dua tipe sosialisasi. Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut.
Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.
Baik sosialisasi formal maupun sosialisasi informal tetap mengarah kepada pertumbuhan pribadi anak agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Dalam lingkungan formal seperti di sekolah, seorang siswa bergaul dengan teman sekolahnya dan berinteraksi dengan guru dan karyawan sekolahnya. Dalam interaksi tersebut, ia mengalami proses sosialisasi. dengan adanya proses soialisasi tersebut, siswa akan disadarkan tentang peranan apa yang harus ia lakukan. Siswa juga diharapkan mempunyai kesadaran dalam dirinya untuk menilai dirinya sendiri. Misalnya, apakah saya ini termasuk anak yang baik dan disukai teman atau tidak? Apakah perliaku saya sudah pantas atau tidak?
Meskipun proses sosialisasi dipisahkan secara formal dan informal, namun hasilnya sangat suluit untuk dipisah-pisahkan karena individu biasanya mendapat sosialisasi formal dan informal sekaligus.
Pola sosialisasi
Sosiologi dapat dibagi menjadi dua pola: sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris. Sosialisasi represif (repressive socialization) menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan anak dan orang tua. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orang tua dan keinginan orang tua, dan peran keluarga sebagai significant other. Sosialisasi partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola di mana anak diberi imbalan ketika berprilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan diletakkan pada interaksi dan komunikasi bersifat lisan yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak. Keluarga menjadi generalized other.
C. Fungsi dan tugas Manusia Sebagai
Makhluk Sosial
Manusia
sebagai makhluk sosial memiliki fungsi dan tugas yang harus diemmbannya. Baik
itu dalam masyarakat dan kemasyarakatan. Selain itu juga fungsi dan tugasnya di
masyarakat sebagai wadah yang memanusiakan seorang pribadi manusia.
Manusia
sebagai makhluk sosial juga mengemban tugas dan fungsi dalam keluarga sebagai
lingkungan sosial terkecil. Agar individu-individu menjadi satu anggota
keluarga untuk dapat menjadi manusia sebagai makhluk sosial
D. Faktor yang Mempengaruhi
Sosialisasi
Sosialisasi bekaitan erat dengan kepribadian. Hal ini
karena kepribadian terbentuk sebagai hasil sosialisasi individu terhadap apa
yang ada disekelilingnya seperti nilai, norma, kebiasaan, adat-istiadat
kebudayaan.
Ada 4
(empat) faktor yang dapat yang mendorong manusia
untuk hidup bermasyarakat,
yaitu:
1. Adanya dorongan seksual, yaitu dorongan manusia
untuk mengembangkan keturunan atau jenisnya.
2. Adanya kenyataan bahwa manusia adalah serba tidak
bisa atau sebagai makhluk lemah.karena itu ia selalu mendesak atau menarik kekuatan bersama,
yang terdapat dalam perserikatan dengan orang lain.
3. Karena terjadinya habit pada tiap-tiap diri manusia. Manusia bermasyarakat karena ia telah biasa mendapat bantuan yang berfaedah yang diterimanya sejak kecil dari lingkungannya.
4. Adanya kesamaan keturunan, kesamaan territorial, nasib, keyakinan/cita-cita, kebudayaan, dan lain-lain.
3. Karena terjadinya habit pada tiap-tiap diri manusia. Manusia bermasyarakat karena ia telah biasa mendapat bantuan yang berfaedah yang diterimanya sejak kecil dari lingkungannya.
4. Adanya kesamaan keturunan, kesamaan territorial, nasib, keyakinan/cita-cita, kebudayaan, dan lain-lain.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia sebagai
warga masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri
atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan
kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk
berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dapat
dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai makhluk sosial.
Manusia akan selalu berinteraksi dengan individu yang lain, yaitu saling
mempengaruhi satu sama lain. Seperti kita ketahui, bahwa
manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan
yang lain. Sosialisasi
sangat berpengaruh didalam kehidupan manusia dalam pembentukan kepribadian
individu. Sosialisasi dibagi dua tipe yaitu sosialisasi primer (melalui
keluarga) dan sosialisasi sekunder (melalui masyarakat).
Manusia
memiliki fungsi dan tugas sebagai makhluk sosial, mulai dari lingkungan sosial
yang terkecil yaitu keluarga, kemudian dari lingkungan sosial terbesar yaitu
lingkungan masyarakat. Sebagai insan politik, manusia memiliki nilai-nilai yang
bisa dikembangkan untuk mempertahankan komunitasnya. Argumen yang mendasari
pernyataan ini adalah bahwa manusia sebagaimana binatang, hidupnya suka
mengelompok. Hanya sifat mengelompok antara manusia dan binatang berbeda, hewan
mengandalkan naluri, sedangkan manusia berkelompok dilakukan melalui proses
belajar dengan menggunakan akal pikirannya.
Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi mansia sebagai makhluk sosial ada empat, yaitu dorongan
seksual, . Adanya kenyataan bahwa manusia adalah serba
tidak bisa atau sebagai makhluk lemah, terjadinya habit pada tiap-tiap diri
manusia, adanya
kesamaan dari
setiap individu.
Referensi
:
http://www.frozpedia.com/2012/02/pengertian-manusia-sebagai-makhluk.html
http://dimasmn.blogspot.com/
http://dimasmn.blogspot.com/
Comments
Post a Comment